😇

Apa dosa pokokmu?

Enam belas situasi sehari-hari sudah cukup membocorkan yang mana dari ketujuhnya menarik lenganmu.

Tes ini juga cocok buat kamu

Tentang tes ini

Daftar tujuh dosa pokok tidak turun dari langit sekaligus. Pada abad keempat, rahib Evagrius Pontikus, yang tinggal di padang gurun Mesir, mendaftar delapan "pikiran" yang menyerang orang yang ingin berkonsentrasi: kerakusan, nafsu, kekikiran, kesedihan, amarah, akedia, kemuliaan kosong, dan kesombongan. Yohanes Kasianus membawanya ke Barat; pada akhir abad keenam, Gregorius Agung menyusun ulang semuanya menjadi tujuh, melebur kemuliaan kosong ke dalam kesombongan, menambahkan iri hati, dan menjadikan kesombongan sebagai akar yang menurunkan sisanya. Akedia, belakangan, menjadi kemalasan.

Dengan kata lain: awalnya ini alat untuk mengelola perhatian, bukan rapor nilai. Delapan pikiran Evagrius menggambarkan apa yang mengalihkan pikiran dari tugasnya — topik yang terasa sangat kekinian. Dalam semangat itulah tes ini memakainya: bukan untuk menghukummu, melainkan untuk menyebut nama kemiringan yang kamu ambil ketika kamu tidak sedang memikirkannya.

Enam belas situasi yang sangat biasa, tujuh kecenderungan, satu pemenang. Yang ketujuh di sini diperlakukan sebagai hasrat, yaitu sebagai hubungan dengan perhatian dan intensitas, tanpa isi yang vulgar sama sekali.

Cara kerjanya

Setiap jawaban memberi satu poin ke salah satu dari tujuh kecenderungan. Yang mengumpulkan terbanyak menjadi hasilmu, dan sebaran lengkapnya ditampilkan di bawahnya. Dua skor yang nyaris sama bukan kesalahan: sebagian besar orang memegang dua dosa sekaligus, satu di depan umum dan satu lagi di rumah.

Tes ini disajikan semata-mata sebagai hiburan. Tes ini bukan diagnosis maupun pendapat profesional.