Kuis sastra Indonesia
Pengarang, tahun, angkatan, tokoh cerita. Dua puluh soal tentang sastra Indonesia.
Tes ini juga cocok buat kamu
Tentang tes ini
Sastra Indonesia lebih mudah diingat lewat tahunnya ketimbang lewat judulnya. Tiga tahun menopang hampir semuanya: 1922, saat "Sitti Nurbaya" keluar dari penerbit kolonial Balai Pustaka; 1933, saat majalah "Poedjangga Baroe" lahir dan membawa angkatan yang ingin keluar dari pakem lama; serta 1949, tahun Chairil Anwar meninggal pada usia dua puluh tujuh, setelah meninggalkan sajak yang mengubah cara orang menulis puisi di negeri ini.
Angkatan-angkatannya paling jelas dipahami lewat pertentangannya. Balai Pustaka menerbitkan roman yang mengangkat soal adat dan kawin paksa. Pujangga Baru membawa cita-cita kemajuan dan kebangsaan. Angkatan 45 memilih bahasa yang pendek, keras, dan sinis terhadap kata-kata besar. Lalu sejak dekade 1960-an sastra terbelah oleh politik, dan dari situlah lahir Manifes Kebudayaan. Empat label, empat niat yang berbeda: menukarnya adalah kesalahan paling sering di kuis semacam ini.
Satu patokan kelembagaan yang berguna: karya Pramoedya Ananta Toer sempat dilarang beredar selama lebih dari dua dekade, dan sebagian ditulis saat ia ditahan di Pulau Buru tanpa kertas, dituturkan lebih dulu secara lisan kepada tahanan lain. Larangan dan penghargaan sering bercerita lebih banyak daripada biografi.
Tes ini disajikan semata-mata sebagai hiburan. Tes ini bukan diagnosis maupun pendapat profesional.